Ketika kekuasaan shogun menggantikan otoritas Kekaisaran Jepang, masa ini menandai dimulainya periode feodal Jepang. Kekuasaan ini, yang bertahan hingga naik takhta Kaisar Meiji pada abad ke-19, dibangun atas keterampilan samurai. Namun, yang akan kita bahas di sini bukanlah sejarah samurai, melainkan perlengkapan perang mereka.
Perlengkapan perang para samurai menonjolkan sifat aristokratik kelas prajurit ini sejak awal. Hal ini ditegaskan oleh fakta bahwa mereka mulai sebagai pemanah berkuda dan tidak bergabung sebagai infanteri hingga lama kemudian.
Pada kenyataannya, evolusi dan diversifikasi samurai merupakan hasil logis dari perubahan zaman, yang diikuti oleh spesialisasi. Samurai pun secara bertahap meninggalkan busur dan anak panah. Seiring dengan berkembangnya zaman, samurai mulai memanfaatkan senjata lain yang digunakan dalam pertarungan jarak dekat. Misalnya pedang, naginata, dan bahkan senjata api.
Baju zirah, atau perlengkapan tempur pelindung, sudah ada sejak zaman kuno. Baju zirah ini hampir selalu dikaitkan dengan tingkat sosial ekonomi kaum elite. Pasalnya, biayanya tidak murah dan penggunanya biasanya bertanggung jawab atas biayanya.
Kekaisaran Jepang mengembangkan baju zirahnya sendiri. Evolusi baju zirah dan perlengkapan perang turut dipengaruhi oleh hubungan kontak dan perdagangan. Kontak dan perdagangan memungkinkan unsur-unsur dari satu wilayah untuk digabungkan ke wilayah lain.
Karena Kekaisaran Jepang sempat menutup diri dari pengaruh asing, baju zirahnya mengembangkan karakteristik yang unik. Hal ini berlangsung hingga kedatangan orang Eropa pada abad ke-16 yang akhirnya memperkenalkan beberapa hal baru.
Seperti halnya baju zirah Eropa, setiap baju zirah Jepang memiliki namanya sendiri. Yang paling terkenal adalah do (sejenis pelindung dada) serta kabuto (helm yang terdiri dari beberapa bagian untuk meningkatkan perlindungan). Selain itu, juga mengu (topeng khas yang menutupi wajah), haidate (pelindung paha yang setara dengan tasset).
Namun, baju zirah dilengkapi dengan serangkaian aksesori. Misalnya, sashimono yang mencolok. Sashimono adalah panji yang ditempelkan di bagian belakang untuk mengidentifikasi sisi mana samurai itu berada.
Namun salah satu yang paling unik adalah horo. Pada dasarnya, horo adalah jubah yang dikenakan di bagian belakang oleh samurai berpangkat tinggi. Namun jubah ini bukan sekadar sepotong sutra biasa. Sebaliknya, horo terdiri dari potongan-potongan yang dijahit bersama dan diikat ke rangka internal, yang disebut oikago. Oikago terbuat dari bahan ringan seperti anyaman, bambu, atau tulang ikan paus.
“Fungsi horo sungguh unik,” tulis Jorge Alvarez di laman Labruju Laverde. Saat penggunanya berlari kencang di atas kuda, horo mengembang seperti balon, membungkus samurai. Dan oikago membantu mempertahankan bentuknya. Dalam keadaan seperti itu, penampilan samurai pasti sangat mencolok, seperti membawa kantung udara yang menghadap ke belakang. Namun, ini bukanlah tujuan utama horo; atau setidaknya, bukan satu-satunya.
Horo berfungsi sebagai perlindungan ekstra terhadap anak panah musuh yang datang dari belakang. Struktur yang menahan benturan dan mencegah anak panah mencapai tubuh. Bahkan ada versi depan yang dilaporkan digunakan untuk melindungi kepala kuda saat menyerang.
Horo berukuran hampir dua meter, diikat di bagian atas ke helm. Juga bisa diikat di bagian atas baju zirah dan di bagian bawah ke pinggang.
Selain itu, mon—lambang klan—dicat atau disulam di permukaan horo. Lambang klan ini membantu mengidentifikasi sekutu dan musuh di tengah kekacauan pertempuran, berfungsi sebagai semacam panji. Horo juga digunakan untuk memberi tanda menyerah dengan mengikatkan talinya ke cincin di helm dan cincin lainnya di sanggurdi. Jadi, horo merupakan elemen simbolis dan praktis. Istimewa, dalam hal apa pun.
Karena itu, horo diperuntukkan bagi individu dengan status tertentu. Misalnya untuk tsukai-ban (ajudan) atau utusan yang bertugas menyampaikan instruksi kepada pasukan di tengah panasnya pertempuran.
Dalam dokumentasi, dituliskan bahwa ketika pembawa horo dikalahkan, ia biasanya dipenggal dan kepalanya dibungkus dengan jubah sutra. Tindakan ini mencerminkan praktik samurai berpangkat rendah, yang kepalanya dibungkus dengan kain sashimono.
Siapa pencipta horo?
Sering dikatakan bahwa horo diciptakan oleh Hatakeyama Masanaga, seorang daimyo yang bertempur dalam Perang Onin. Perang tersebut dimulai pada tahun 1467 dan berlangsung selama 1 tahun, membuka jalan bagi periode Sengoku, Era Negara-negara Berperang.
Singkatnya, horo berfungsi untuk tampil menonjol di tengah kekacauan medan perang. Selain itu, juga untuk melindungi sisi dan punggung samurai yang mengenakannya. Mungkin horo diperlukan sebagai keunggulan ekstra dalam pusaran pedang dan teriakan. Saat itu, mustahil untuk memprediksi dari mana pukulan fatal akan menyerang.
Horo juga berfungsi untuk melindungi bagian-bagian tubuh yang terekspos selama kemungkinan mundur. Hal ini sesuai dengan gambaran samurai yang bertempur sampai mati.