WemanMilitia – Kota Sparta terkenal karena kehebatan prajurit militernya karena dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah peradaban Yunani Kuno. Sparta yang berada di Kota Athena, memainkan peran penting dalam memimpin bangsa Yunani Kuno melawan Kekaisaran Persia. Hal tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa, mengingat Sparta memiliki populasi yang jauh lebih kecil daripada kota-kota lain di Yunani. Apa faktor kunci yang menjadikan militer Sparta begitu legendaris?
Di masa lalu, para pendiri Sparta berhasil menaklukkan penduduk asli wilayah tersebut. Dalam proses ini, para pendiri Sparta harus menghadapi perlawanan dari penduduk asli Yunani yang tinggal di wilayah tersebut. Setelah dikalahkan, mereka dijadikan budak yang dikenal sebagai helots. Masyarakat Sparta selalu mempertahankan identitas sebagai bangsa penakluk dan karena itulah mereka melihat kaum helots dan kota-kota lain Yunani sebagai potensi ancaman yang berkelanjutan. Ketakutan akan pemberontakan dari kaum helots ini sangat beralasan, mengingat jumlah penduduk Sparta jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah budak helots. Kekhawatiran ini, pada akhirnya, membentuk fondasi budaya militeristik yang kuat di Sparta. Dalam budaya ini, setiap pria Sparta diharapkan untuk tidak hanya menjadi warga biasa, tetapi juga prajurit yang tangguh. Hal ini menjadikan Sparta mampu menyediakan prajurit terbaik di seluruh Yunani yang tugas utamanya adalah berperang.
Kehidupan penduduk Sparta Dalam masyarakat Sparta, kemampuan militer lebih dihargai dan berdampak besar pada kehidupan sehari-hari. Karena itulah penduduk Sparta tidak diwajibkan untuk melakukan pekerjaan kasar, seperti bertani di bawah sinar matahari yang terik dan melelahkan.
Struktur sosial Sparta juga mencakup hubungan antara penduduk asli Sparta dan budak yang disebut sebagai helots. Setiap warga Sparta umumnya didampingi oleh tujuh orang budak yang berperan sebagai pembantu dalam menjalankan tugas-tugas sehari-hari. Pekerjaan lain, seperti berdagang dan kerajinan besi, dapat dilakukan oleh warga Yunani biasa yang memilih tinggal di Sparta.
Ketika seorang lelaki Sparta mencapai usia dewasa, dia akan diberikan sebidang tanah dan beberapa budak untuk membantu mengelolanya. Budak-budak Sparta berperan penting dalam ekonomi dan kehidupan kota.
Sistem pemerintahan Sparta Sparta menganut sistem pemerintahan Diarki, yang berarti negara ini dipimpin oleh dua raja dari dua keluarga berbeda, yaitu keluarga Agiads dan keluarga Eurypontid. Kedua raja ini memiliki kewenangan yang sama dalam pemerintahan. Terdapat juga dua badan pemerintahan yang memiliki otoritas signifikan melebihi raja-raja tersebut, yaitu Ephors dan Georusia sebagai dewan penentu kebijakan negara Sparta.
Pengembangan militer Sparta Salah satu tradisi yang mencerminkan komitmen Sparta terhadap kehidupan militer adalah pendidikan militer Agoge. Pendidikan ini dimulai sejak seorang anak lahir. Agoge merupakan program yang sangat ketat bertujuan untuk mendidik dan melatih fisik serta mental mereka. Selama program ini, mereka akan diajari berbagai keterampilan, termasuk ilmu bertahan hidup di alam liar, disiplin, pelatihan dalam pertarungan, dan nilai-nilai komunitas Sparta
Anak perempuan yang baru lahir diizinkan untuk tetap hidup, sedangkan anak laki-laki akan diperiksa secara ketat. Jika ada kecacatan atau ketidakcocokan dengan standar Sparta, anak laki-laki akan ditinggalkan di dasar gunung karena dianggap tidak pantas untuk menjadi bagian dari masyarakat Sparta.
Proses militer dimulai ketika seorang anak laki-laki telah berusia tujuh tahun dan kemudian diminta untuk meninggalkan rumah dan masuk ke dalam asrama militer. Anak-anak tersebut dikirim ke rawa-rawa untuk mencabut alang-alang yang nantinya akan digunakan sebagai alas tidur. Anak-anak ini diberikan makanan yang sangat terbatas dan hanya diizinkan dua kali mandi dalam setahun dengan air dingin. Ketika mereka mencapai usia 12 tahun, semua pakaian disita dan hanya diberikan satu jubah yang berfungsi sebagai baju satu-satunya sekaligus selimut untuk tidur. Pada usia 16-17 tahun, anak-anak akan diasingkan ke hutan selama beberapa pekan, sehingga mereka harus merampok dan membunuh budak-budak. Jika tertangkap selama masa pengasingan itu, mereka akan menghadapi hukuman yang keras